Ada yang selalu menarik ketika media bertemu kampus. Bukan hanya soal berbagi pengalaman pribadi, tetapi juga kesempatan untuk membuka dapur redaksi—tempat segala drama, ide dan keputusan editorial yang sering tak terlihat oleh pembaca.
Begitulah kira-kira yang terjadi saat Mojok melakukan kunjungan ke Universitas Airlangga (Unair) untuk berbagi cerita bagaimana para tim redaksi mengelola Terminal Mojok, sebuah ruang dimana penulis bebas mengirimkan keresahan, opini, pengalaman dan keluh kesah hidup mereka.
Tentang Kegiatan
Sesi awal dibuka dengan perkenalan para kru Mojok, lalu berlanjut ke pengenalan Mojok dan Terminal Mojok. Di tahap ini, peserta diajak memahami secara praktis jenis tulisan yang diminati redaksi, sekaligus bagaimana menyusun struktur artikel yang efektif.
Seiring suasana yang makin cair, obrolan masuk ke bagian yang paling ditunggu. Redaksi Mojok mulai buka suara soal dinamika di balik layar: bagaimana redaktur menangani naskah, mengapa ada tulisan yang bisa cepat tayang sementara yang lain harus menunggu, hingga cerita soal kiriman naskah yang kadang absurd.
Tentu saja, diskusi tak berhenti satu arah. Audiens aktif melontarkan pertanyaan, termasuk soal naskah yang pernah mereka kirimkan sendiri ke Mojok. Semua dibahas secara terbuka dan blak-blakan, khas forum Mojok.
Tak berhenti di situ, Tim Terminal juga mengajak audiens terlibat lebih jauh. Mereka diminta menyampaikan tema-tema yang sudah ada di kepala, lalu bersama redaktur berlatih menyusun kerangka tulisan—sebelum akhirnya diarahkan untuk menuliskannya secara utuh.
Tentang Harapan
Kunjungan Redaksi Mojok ke Unair bukan cuma temu kangen dengan penulis, tetapi juga upaya mengenalkan media mojok serta memberikan gambaran bagaiaman seorang redaksi mengolah ratusan suara menjadi bacaan yang enak dan relevant.
Harapanya kedapan semoga ada banyak tulisan dari daerah Jawa Timur terutama dari para mahasiswa Unair yang segera mendarat di Terminal Mojok. Karena dapur Mojok selalu terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin berkarya.








