Setelah mati suri beberapa bulan, menjelang akhir tahun 2025 Mojok Institute kembali mengadakan kelas online-nya. Ketok Mojok #5 dengan tema “Homeless Media: Fakta atau Hoaks? Tantangan atau Justru Masa Depan Jurnalisme?” diadakan pada Jumat, 19 Desember 2025.
Seperti biasa, acara ini dilaksanakan secara daring mulai pukul 19.00 hingga 20.45 WIB dengan menghadirkan lebih dari 50 peserta yang terdiri dari mahasiswa, karyawan, Jamaah Mojokiyah, bahkan dari teman-teman media yang lain.
Berbeda dari episode sebelumnya yang berfokus pada teknik kepenulisan, diskusi kali ini menyoroti fenomena homeless media. Diskusi ini dimeriahkan dengan Yodan Pranata sebagai pembicara selaku founder salah satu homeless media di Yogyakarta yaitu The Tribes.
Tak sendirian, agar diskusi menjadi seimbang, Ketok Mojok #5 mendatangkan pembicara lain yang mana merupakan Pimpinan Redaksi Mojok.co sekaligus Ketua AMSI DIY yaitu Agung Purwandono.
Menilik Homeles Media dari Sudut Pandang Lain
Berawal dari diskursus mengenai homeless media yang sedang marak diperbincangkan di internet, Ketok Mojok #5 ingin melihat bagaimana sisi lain homeless media bekerja.
Diskusi dibuka dengan cerita Yodan Pranata mengenai lahirnya The Tribes pada 2024, yang berangkat dari kebiasaan nongkrong dan produksi konten sederhana bermodal gawai. Respons audiens yang positif kemudian menandai kemunculan The Tribes sebagai bagian dari homeless media.
Sementara itu, Agung Purwandono menjelaskan bahwa media independen kerap dipersepsikan kurang kredibel karena tidak memiliki website sebagai pusat informasi.
Namun, praktik saling mengolah konten dari media sosial dan media daring sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kerja jurnalistik.
Pembahasan juga menyentuh isu branding, marketing, hingga revenue, di mana homeless media dinilai lebih fleksibel dan potensial secara ekonomi.
Penentuan niche media menjadi poin penting yang ditekankan dalam menjaga keberlanjutan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan audiens, mulai dari strategi menghadapi algoritma hingga tantangan dan keberjalanan IP di sebuah media.
Menjadi Ruang Refleksi Bersama
Sebagai penutup, Ketok Mojok #5 diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bersama dan membuka percakapan kritis mengenai keberadaan homeless media di tengah lanskap jurnalisme hari ini.
Melalui diskusi ini, peserta diajak untuk tidak hanya melihat ia sebagai ancaman jurnalisme, melainkan sebagai kemungkinan baru sebuah media atau bisa dikatakan new media di era digital.
Harapannya, dialog semacam ini dapat terus berlanjut dan menjadi ruang diskusi Mojok Institute untuk membincangkan jurnalisme yang lebih adaptif, relevan, dan bertanggung jawab.








