Mojok kembali menggelar Workshop Jurnalistik tingkat dasar dan tingkat lanjut. Pelatihan ini bukan sekedar agenda internal. Ini adalah upaya kecil Mojok.co untuk memastikan tulisan-tulisan yang keluar dari dapur redaksi semakin matang dan tetap taat pada etika jurnalistik. Demi menjaga fokus dan kedalaman materi, workshop ini digelar dua hari berturut-turut, dengan pembahasan yang saling melengkapi antara dasar dan lanjutan.
Hari Pertama: Belajar Fondasi Jurnalistik tanpa Pusing Kepala
Workshop hari pertama digelar pada Senin (8/12/2025), berbicara mengenani tahapan dasar memahami jurnalistik, Mojok.co menghadirkan Haris Firdaus sebagai pembicara tunggal. Haris selaku Kepala Biro Kompas DIY, mengajak para peserta untuk kemudian belajar tentang bagaimana jurnalistik bekerja mulai dari pemilihan angle yang baik hinggga kode etik jurnalistik. Pelatihan ini tak hanya dihadiri oleh kru liputan saja tetapi juga seluruh tim Mojok dan Komunitas Rumah Kretek Indonesia.
Pada hari pertama, Haris Firdaus tak hanya mengajak peserta memahami jurnalistik di tingkat dasar saja, namun juga mengajak berpikir kritis. Hal yang menarik dari kelas ini adalah pembahasan penggunaan AI pada media massa yang seringkali sudah lumrah terjadi. Apakah seorang jurnalis dapat menggunakan AI untuk mengolah beritanya, ataukah tidak?
Hari Kedua: Turun ke Jurus Lanjutan, Liputan Makin Dalam
Tak kalah seru dari hari pertama, di hari kedua, Selasa (9/12/2025) Mojok.co melanjutkan Workshop pelatihan ke tingkat lanjut. Bersama Shinta Maharani (Ketua AJI DIY) sebagai pembicara di pagi hari itu, workshop tersebut membahas mengenai liputan mendalam. Sesi ini wajib diikuti oleh Tim Terminal dan Tim Liputan, namun tetap dihadiri oleh sejumlah peserta dari divisi lain yang turut antusias mengikuti materi. Shinta membuka kelas dengan membahas praktik liputan mendalam melalui studi kasus. Peserta diajak memahami bagaimana seorang jurnalis merangkai laporan yang tidak hanya informatif, tetapi juga kaya konteks dan analisis.
Selanjutnya, kelas berlanjut ke tema yang lebih sensitif namun sangat relevan dalam praktik jurnalistik kontemporer: jurnalisme investigasi dan peliputan mengenai kekerasan seksual. Pada sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya membangun kepercayaan dengan penyintas, menjaga etika, serta memastikan keselamatan dan martabat narasumber tetap terjaga.
Sesi ini berlangsung interaktif. Tim Mojok berbagi pengalaman lapangan, sementara Shinta memberikan perspektif kritis sekaligus praktis dari pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik.
Rasanya Dua Hari Tak Cukup Untuk Belajar
Tak terasa, dua hari pelatihan ini terasa berjalan begitu cepat. Dengan materi yang padat dan diskusi yang hidup, dan suasana kelas tetap hangat meski topik yang dibahas cukup serius membuat acara kali ini meninggalkan kesan mendalam.
Dua hari memang tidak cukup untuk memahami keseluruhan mengenai jurnalistik. Tapi setidaknya workshop ini menjadi pengingat bahwa menulis, khususnya dalam konteks jurnalistik bukan hanya perkara merangkai kata, tetapi juga soal integritas, kepekaan, dan tanggung jawab.
Mojok.co berharap, ilmu yang diperoleh dari dua sesi ini dapat memperkuat kualitas kerja jurnalistik di internal, serta membantu para penulis Mojok menghadirkan tulisan yang semakin tajam, jernih, dan tetap setia pada karakter Mojok.








