Tiap kali buka email redaksi, isinya bukan cuma naskah, tapi juga “surat cinta” yang nadanya beragam. Ada yang sopan bertanya, ada yang curhat habis diputusin pacar gara-gara naskah nggak tayang-tayang, sampai ada yang protes keras via WhatsApp:
“Min, saya sudah baca syarat dan ketentuan 250 kali, kirim naskah sesuai gaya Mojok 49,5 kali, tapi kenapa nggak ada satu pun yang naik! Gak ngerti lagi…”
Pertanyaan itulah yang menjadi sorotan utama dalam acara Parkir di Terminal #2 yang diselenggarakan Mojok Institute pada Kamis 24 April 2026. Setelah cukup lama vakum, acara ini akhirnya kembali hadir untuk mempertemukan jamaah dan kru Mojok dalam ruang komunikasi yang kritis, namun tetap santai.”
Acara Parkir di Terminal kali ini tampil beda. Jika sebelumnya daring, kali ini acara dilaksanakan secara offline dengan batasan kuota peserta. Meskipun dibatasi, para jamaah Mojok tetap antusias mendaftar, hingga akhirnya hanya 15 orang saja yang terpilih untuk hadir langsung.
Dipandu oleh seluruh kru Terminal—ada Yamadipati Seno, Rizky, dan Kenia—acara dimulai dengan sesi pembuka yang dilanjutkan dengan pemaparan materi. Sesi ini berjalan hangat dan penuh insight, mulai dari cara menentukan topik hingga teknik pengambilan angle berita.
Setelah pemaparan selesai, suasana berlanjut ke sesi tanya jawab. Di sini, antusiasme peserta tampak menggebu-gebu; banyak yang berebut ingin bertanya. Pertanyaannya pun beragam, mulai dari soal keamanan penulis saat menulis berita, hingga cara mencari angle saat ide sedang buntu.
Seno, Rizky, dan Kenia menjawab setiap pertanyaan dengan santai namun tetap berisi. Mereka memberikan case langsung agar penanya lebih mudah paham, sembari menyisipkan candaan agar suasana ruangan mencair.
Meski waktu diskusi sudah melampaui jadwal, obrolan ternyata masih terus lanjut. Hal ini menunjukkan antusiasme peserta yang tidak ada habisnya, namun pada akhirnya acara tetap harus ditutup.
Acara pun berakhir dengan satu catatan: kesulitan untuk menulis lalu diterbitkan di terminal mojok bukan seharusnya tidak dijadikan hambatan, nikmati prosesnya dan jadikan motivasi untuk terus berkambang.








